Ketika memasuki wilayah perbatasan Polewali – Mamasa kita akan menghirup udara yang segar dan dingin, mungkin dikarenakan Mamasa berada di atas pegunungan yang jauh dari garis pantai. Pemandangan sawah dan jajaran gunungnya sangat memanjakan mata dikarenakan keindahan alamnya. Sungguh Maha Pencipta luar biasa......
pemandangan yang luar biasa......
Selama ±12 jam waktu yang ditempuh
dari Makassar ke Mamasa. Perjalanan yang melelahkan..... keesokan harinya kami
bergegas menuju Perkampungan Balla Peu’ dengan menggunakan mobil offroad,
dikarenakan jalan menuju perkampungan Balla Peu’ merupakan jalan setapak di
lereng bukit dengan pengerasan batu gunung. Untuk mencapainya dibutuhkan driver yang
handal, jurang kiri dan kanan ditambah jalan yang licin karena hujan. Hal tersebut
cukup mengetes adrenalin loh........
eksis di tengah jalan..... :)
Di tengah
perjalanan kami menemui seorang ibu yang di angkat secara gotong royong
menggunakan sarung dan bambu. Ternyata ibu tersebut baru saja melahirkan di
kota Mamasa. Hati ini tersentuh melihatnya karena pusat kesehatan sangat jauh dari
Perkampungan Balla Peu’ sehingga menuntut seorang ibu harus berjalan jauh dari
kampungnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Perkampungan Balla Peu’ berada ±20 km dari kota Mamasa,
dapat kita bayangkan susahnya untuk mengakses kampung tersebut.
eksis dulu di kota sebelum cussss :p
Sesampainya di Perkampungan
Balla Peu’ kita disuguhkan rumah adat yang berjejer rapi (Banua) sebanyak 105 buah dengan orientasi utara – selatan dan alang
(tempat penyimpanan padi) dengan orientasi timur - barat sebanyak 56 buah. Terpeliharanya dan lestarinya banua di
kampung ini dikarenakan masih ketatnya aturan yang diberlakukan para pemangku
adat dan ditaati oleh masyarakatnya untuk tidak membangun rumah selain rumah berbentuk banua. Menurut pemangku
adat, terdapat 6 tingkatan sosial yang ada di Balla Peu’. Dapat kita
lihat dari jenis Banua, yaitu Banua Sura, Banua Bolong, Banua Rapa, Banua
Longkarrin, Banua Lentong Patondok, Banua Pong. Selain itu terdapat sawah adat
dan juga pemakaman adat di perkampungan ini loh.....
masyarakat sekitar berjalan di pematang di sawah adat
Pemakaman adatnya
disebut dengan Batutu Balla, dimana kerangka manusia diletakkan didalam sebuah
Banua dengan menggunakan erong berbentuk perahu. Erong tersebut tersusun dengan
rapi, yang dimana banua tidak terdapat pintu masuk. Keletakan Batutu Balla
berada di tengah-tengah sawah adat yang tidak jauh dari perkampungan.
eksiis di Batutu Balla :)
Sangat sayang
jika perkampungan ini tidak dilestarikan. Perkampungan ini kurang terpublikasi
oleh masyarakat, mungkin karena letaknya yang terisolasi dari perkotaan. Namun banyak
nilai didalamnya, salah satunya nilai ekonomis yang dapat dijadikan sebagai
objek wisata. Selain itu terdapat nilai arkeologisnya dan budayanya.
yahhh kurang om jamal :)

No comments:
Post a Comment